Selasa, 02 Agustus 2011

Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?

Judul : Menjadi Guru Untuk Muridku Penulis : ST. Kartono Penerbit : Kanisius Terbit : Mei 2011 Tebal : 271 halaman

Oleh: Muhammad Arif

Idealnya seorang guru adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, dalam praktiknya kebanyakan guru masih belum mengajar dengan hati melainkan dengan dasar profesi. Tidak heran jika kemudian kebanyakan guru kerap irit penjelasan di kelas dan murid dibiarkan dalam kebingungan. Tidak jarang juga guru memasang tampang dingin, menjaga jarak dengan murid, suka marah, galak, keras, bahkan cenderung mengintimidasi murid saat mengajar.

Kenyataan ironis inilah yang membuat ST. Kartono mengawali bunga rampai ini dengan kisah pengalaman pribadinya. Diceritakan bahwa Profesor Endang Nurhayati, dosen ST. Kartno, ternyata masih menyempatkan diri untuk sekedar mengingatkan ST. Kartono yang kerap abai menyelesaikan tugas akhir kuliah pasca sarjananya. Dari situ kemudian dia berfikir, jika seorang guru besar saja masih mau repot-repot, mahasiswa yang tergolong tua pun masih harus dibimbing, mengapa para guru justru abai membimbing murid yang masih kanak-kanak? (hal.5)

Melalui buku yang berjudul menjadi guru untuk muridku ini ST. Kartono berusaha untuk menjernihkan pikiran para guru yang cenderung lupa akan idealitas seorang guru. Menurut ST. Kartono berkembangnya paradigma demikian tidak lain karena para guru kerap abai pada kalimat bertuah dalam pendidikan, “yang diingat oleh siswa bukan yang diajarkan gurunya, tetapi yang dilakukannya”. Murid mengingat yang diperbuat gurunya, kebiasaan-kebiasaan, beserta berbagai kesan dalam pertemuan di kelas. Materi pelajaran boleh dilupakan, tetapi kesan apapun mengenai sang guru pasti tidak dilupakan. (hal.18) Jika, kalimat bertuah tersebut tertancap dalam sanubari setiap guru, niscaya guru akan lebih memilih membuat kesan baik di hadapan siswa daripada yang sebaliknya.

Lebih lanjut, guru senior SMA Kolese De Britto, Yogyakarta ini menjelaskan bahwa saat ini makna seorang guru sudah mulai terdistorsi. Entah karena terlalu seringnya kurikulum pendidikan negeri ini diutak-atik oleh pemintah atau karena kecenderungan guru sebagai profesi semakin menyubur, sehingga kebanyakan guru pun hanya memahami pekerjaannya hanya sebagai pengajar. Guru sekedar menyampaikan pemahamannya tentang apa yang dibacanya dari buku pelajaran kepada murid-muridnya dan cenderung abai terhadap sentuhan sisi manusiawi. Padahal guru sejatinya adalah seorang pendidik yang seharusnya tidak hanya mengajar, tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi muridnya untuk maju.

Kumpulan kolom ST. Kartono yang semula tersebar di berbagai media massa ini ditulis berdasarkan pengalaman-pengalamannya selama 20 tahun mengajar dan bercerita tentang keseharian para guru di kelas. Tidak ayal jika kemudian ia bisa menjadi cermin atau bahan refleksi bagi para guru dan calon guru.

Tidak perlu bingung-bingung untuk memulai membaca buku ini. Karena buku ini adalah kumpulan kolom, maka Anda bisa memulainya dari depan kebelakang, dari belakang ke depan, atau dari manapun yang Anda suka. Bahasa yang digunakannya pun santai dan renyah dicerna. Namun, sayangnya karena buku ini merupakan kumpulan kolom pulalah, tidak jarang ditemukan pengulangan argumen dalam beberapa kolomnya.

Peresensi adalah peneliti laboraturium al-Hikmah Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar