Selasa, 02 Agustus 2011

UI Akan Jadi Pusat Fisika Medis Regional

Jakarta, Kompas - Universitas Indonesia ditetapkan sebagai Pusat Fisika Medis untuk kawasan Asia. Penetapan itu berdasarkan pengalaman panjang Indonesia dalam aplikasi teknologi nuklir, ketersediaan, dan kemampuan SDM.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Hudi Hastowo dalam jumpa pers berkaitan dengan kunjungan Deputi Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Bidang Aplikasi Iptek Nuklir Daud Mohammad ke Indonesia, Senin (25/7). Dalam kunjungan dua hari, Daud didampingi Direktur IAEA Divisi Pangan Qu Liang dan Direktur IAEA Divisi Kesehatan Rethy K Chhem. Daud menilai Indonesia tergolong maju dalam penerapan aplikasi nuklir di bidang pertanian dan kesehatan.

Berkaitan dengan pembangunan Pusat Fisika Medis (PFM), pimpinan IAEA akan meninjau kelayakan fasilitas yang akan mendukung pendirian pusat itu. PFM akan dibangun pertengahan 2012. Pusat ini menjadi bagian dari rumah sakit pendidikan yang didirikan di kampus UI Depok.

Pembangunan PFM, kata Hudi, akan didukung instansi terkait, seperti Batan, Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Riset dan Teknologi. Batan akan berkontribusi dalam penyediaan tenaga ahli dan tenaga pengajar.

Fasilitas ini memungkinkan praktisi medis di bidang fisika nuklir dari berbagai negara, terutama dari Asia, mengikuti pelatihan singkat di Indonesia. Pusat pelatihan ini akan mengeluarkan sertifikat yang diakui IAEA bagi lulusannya. Hudi menyatakan, Indonesia juga akan menjadi Pusat Internasional Fisika Teoretis untuk regional Asia. Pusat ini akan didirikan di ITB.

Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Taswanda Taryo menambahkan, berdasarkan pengalaman Batan dalam pengembangan dan penerapan iptek nuklir sejak 1970-an, sudah waktunya Indonesia menjadi pusat pelatihan dan riset aplikasi nuklir di lingkup regional.

Saat ini, untuk aplikasi nuklir ada 15 tenaga ahli Indonesia bersertifikat dari IAEA yang melatih tenaga di bidang iptek nuklir di beberapa negara. (YUN)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar